Turun dari angkot membuatku bisa bernafas lega . kejadian di angkot tadi begitu tak menyenangkan. Sangat sesak dengan pengharum beraroma amis yang berasal dari bak plastik ikan yang dibawa oleh penumpang, barang-barang yang sesekali menabrak pundakku saat penumpang lainnya menerobos masuk dengan barang bawaannya itu.
Dari arah timur seorang laki-laki memakai dasi sembarang , baju yang kusut , rambut yang teracak miring. Ia tergopoh-gopoh berlari kearahku dengan nafas yang terengah-engah yang tak lain adalah teman kelasku sendiri, sebut saja Reno.
“ Rin, udah masuk gak?” suaranya yang nyaring membuat orang sekitar mendadak melihat kearahnya.
“ belum, ini masih jam 06.10 Klo udah masuk,gerbang udah ditutup kali” jawabku melirik ke arah pak Mansyur yang daritadi tertawa kecil melihat sikap anak itu.
Reno sering terlambat ke sekolah. Padahal jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh, matanya terlihat memerah garis tipis yang melingkar dibawah matanya berwarna hitam pekat,memberikan arti kalo dia sering tidur larut malam.
Aku berjalan pelan menuju kelas , entah mengapa hari ini tubuhku terasa tak bersemangat , untuk melangkah saja rasanya berat . Mungkin karena tas merah yang aku gendong ini berisi tumpukan Buku paket . Tak seperti biasa yang selalu aku bawa dengan dijinjing,namun tidak hari ini,kejadian kemaren siang membuatku jera . Buku paket yang seharusnya ada di rebahan pahaku tiba-tiba saja hilang saat di angkot kemarin , Entah siapa yang tega mengambilnya dan anehnya aku tak merasakan ada seseorang yang mengambil. Karna aku tertidur dan mungkin saja ada seseorang yang mengambilnya.
Seorang pria berjalan berlalu melewatiku , dibelakangnya tampak ada banyak perempuan yang mengikutinya sambil menjerit – jerit . Suaranya yang nyaring membuat seisi sekolah merasa jijik mendengarnya .
"uuuu Gibran ganteng sayang uluh uluhh....” ucap seorang gadis yang berada disebelah Gibran.
" hai ganteng” sapa seorang gadis di sampingku seraya menutup mulutnya tertawa bahagia.
"Semuanya minggir, Gibran mau lewat" Seru kakak kelas perempuan berbaju ketat namun rapi dengan Gincu tipis di bibirnya.
"Semuanya minggir, Gibran mau lewat" Seru kakak kelas perempuan berbaju ketat namun rapi dengan Gincu tipis di bibirnya.
Gibran adalah kakak kelasku , ia terkenal playboy dan pintar memainkan wanita. Ketampanannya dan kepintarannya mampu membuat perempuan tertarik padanya.
Aku pergi menjauhi mereka , rasanya tak ada waktu untuk mendengarkan teriakan histeris seorang anak perempuan . Namun tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundakku pelan . parfum vanila yang ia pakai , sangat menyengat sekali , ia adalah orang yang sudah membuat banyak wanita menjerit-jerit sampai telingaku sakit mendengarnya.
Mataku melirik kebelakang dan menoleh kearahnya.
“ada apa?” tanyaku.
Namun tak ada jawaban,ia hanya diam tersenyum melihatku.
Tettt....tetttt...
suara bel masuk berbunyi .
Aku memalingkan wajah dan melangkah pergi menjauhinya , yang aku pikirkan adalah jam pertama adalah jam pelajaran Bu Lastri.
Pelajaran matematika dengan guru super killer membuat anak-anak berlarian masuk kelas tanpa di perintah. Biasanya mereka hanya duduk santai meski tau bel masuk berbunyi. Namun ada saja yang masih belum masuk , berleha-leha dengan santainya membicarakan sesuatu.
Tiba-tiba ada suara di balik pintu kelas, dengan suara khasnya yang begitu nyaring.
“ MASUK! GAK DENGER BEL MASUK? MAU JADI APA KALIAN KALO HIDUP AJA GAK DISIPLIN!!” teriak seseorang di balik pintu,sepertinya itu ibu Lastri.
Ya , itu guru matematikaku.
Ia membuka pintu dan masuk tanpa mengucap salam apapun. Hanya saja dia berkata:
" tas dikumpulkan kedepan, di meja hanya ada alat tulis. Sekarang ulangan! Jika ketahuan menyontek akan ibu keluarkan dan kalian tidak bisa ikut ulangan, mengerti?!” bentak Bu Lastri sambil melototkan matanya yang bulat berhiaskan alis sulam dengan eyeshadow berwarna kuning keemasan.
Ia berjalan ke arah kursinya dan meletakkan tas yang ia jinjing seraya memperhatikan setiap murid dengan mata tajam memeriksa apakah sudah siap untuk mengikuti ulangan hari ini. Semua murid menundukkan kepalanya ke qarah meja , entah apa yang mereka lihat. Mulut mereka seperti dikunci dengan gembok yang sangat terjaga. Tangan mereka seperti dipaksa sendiri untuk dilipat diatas meja dengan kepala masih menunduk. Memang hal ini sering aku rasakan, Dan semua itu bisa ditebak, teman-temanku akan kaku seperti serat ijuk yang digunakan untuk membersihkan sesuatu.
Tiba-tiba Bu Lastri berdiri dari tempat duduknya dan berkata lagi,
“ ibu beri waktu 15 menit untuk belajar, gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Ibu keluar sebentar.”
Itulah sepatah kata dari Bu Lastri Guru matematika kami sebelum beranjak melangkah pergi dari tempat duduknya meninggalkan ruangan.
Beberapa menit kemudian terdengar suara anak di pojokan yang sepertinya gelisah dan cemas dengan ulangan mendadak yang diberikan Bu Lastri.
“ ya gusti... ya tuhan... ini sekolah apa neraka sih pedih amat siksaannya , aku belum paham bener ini rumus , udah mau ulangan aja.” Seru reno di ujung bangku sana yang tengah menatap ke langit atap.
“ lagian baru juga kemaren ngasih materi , udah mau ulangan aja “ ucap Ghalih geram
“ bener tuh, kalo mau ulangan ya infokan dulu,Sekiranya muridnya tau kalo ulangan, kan bisa belajar tuh . Gak mendadak gini” sambung murid lainnya membenarkan perkataan Ghalih.
“ sebenernya aku bingung sama Bu Lastri tuh . Nilai jelek di marahin , nah gimana gak jelek coba Kalo kerjaanya Cuma ngasih ulangan mendadak “ sahut anak perempuan memainkan bolpennya kearah dagunya.
“ Bu Lastri itu sengaja kayak gitu supaya kita dapat nilai jelek” sambung murid lainnya ikut membenarkan.
“ masuk ruangan aja gak pake salam , langsung nyelonong aja . Dia kira ini kelas gak ada penghuninya apa ya!” seru Ghalih lagi, ia tampak kesal dengan alis yang dikerutkannya membentuk jalan tol.
“ bener tuh , masuk kelas langsung ngasih ulangan " cetus anak laki-laki dengan tangan yang dilipatnya didada.
“ Aduh ini gimana , aku gak mau dapat nilai merah lagi . Aku gak mau.... gak mau “ suara tangisan yang sengaja dibuat-buat oleh salah seorang anak perempuan.
“ jangan negatif dulu , mungkin aja Bu Lastri lagi PMS tuh . Kalo cewek kan emosinya sering gak terkendali “ seseorang mencoba mendinginkan suasana.
“ atau mungkin lagi ada masalah sama suaminya, jadi pelampiasannya ke kita deh “ tegas yang lain membenarkan.
“ mau PMS atau enggak, Masalahnya dari dulu sikap Bu Lastri emang gitu . “ jawab Ghalih dengan tegasnya.
Perdebatan mereka membuat Siswa yang belajar memahami rumus terganggu , termasuk aku ,Bagaimana tidak , yang balajar tidak sampai separuh anak. Selebihnya ikut bergabung meramaikan perdebatan tentang Bu Lastri. Anggi yang duduk di sebelahku mulai geram dengan suara gaduh itu.
“ Aduh itu mulut gak bisa diem apa? Aku gak bisa Konsentrasi uggggghhhh “ seru Anggi memegang kepala dengan dua tangannya.
“ yaudah lah , emang kayak gini kalo gak ada guru , kelas kita gak pernah sepi . Kecuali ada guru masuk, nah baru tuh pada diem semua “ jawabku menoleh ke arahnya yang sedang mengkerutkan dahi.
“ iya juga sih rin , ngomong-ngomong kamu nyantai banget sih , udah belajar? Tanya dia penuh penasaran
“ udah sih , tinggal mantepin ke latian soalnya aja “ jawabku yakin
“ kalo rumus a(b+c) = ab + ac ? " Tanya Anggi menunjukkan rumus yang ia ingin tau.
“ ngerti sih lumayan “ ucapku menawarkan bantuan.
“ jadi itu gini
Operasi Hitung pada Bentuk Aljabar
a (b + c) = ab + ac
a (b – c) = ab – ac
x (x + a) = x2 + ax
(x + a)(x + b) = x2 + bx + ax + ab
(4a)2 = 16 a2 “ jelasku.
Tak lama kemudian suasana kelas tiba-tiba sunyi, Suara kegaduhan tidak terdengar lagi,
Tak ada suara terdengar , kecuali...
“ silahkan kumpulkan semua buku tugas dan catatan , tas harus ada didepan , di atas meja hanya ada alat tulis “ itu adalah suara Bu Lastri yang tiba-tiba saja datang.
“ siap,Bu “ suara salah seorang murid dengan nada lemas.
Soal dibagikan dan ulangan dimulai , sesekali aku menengok ke belakang melihat temanku yang nampaknya sedang kebingungan menggaruk-garuk kepala dengan soal matematika yang ia lihat . Bu Lastri melangkahkan kakinya disetiap bangku sambil melipatkan tangannya di dada. Melihat kanan kiri sembari mengawasi setiap gerak dari setiap murid agar tidak menyontek. Keadaan benar-benar sunyi , hanya ada langkah Bu Lastri dan Jarum jam yang perdetik berbunyi dengan sendirinya.
Beruntungnya sebelum Bu Lastri memberikan ulangan , aku sudah terbiasa belajar di rumah mengulang pelajaran di setiap harinya . Karena ini bukan pertama kalinya ia memberikan ulangan secara mendadak .
Jam istirahat berbunyi . Ulangan berakhir, Jam istirahat memang jam yang paling ditunggu oleh semua siswa , dimana mereka sudah merdeka dari penjajah bernama Bu Lastri. Semua menghela nafas panjang , bersyukur karena jam yang paling menyeramkan sudah berakhir . Otak mereka di paksa untuk berfikir memecahkan soal ulangan yang diberikan . Padahal jika mengicil materi sedikit demi sedikit maka nanti akan paham dengan materi tersebut . Berbeda dengan yang hanya malas-malasan , tidak memfokuskan pikirannya dan hanya main-main saja .
Perut yang tak berbunyi menandakan tak ada rasa lapar, lagi pula jarak dari kantin sangatlah jauh , membuatku malas untuk beranjak dari tempat dudukku. Aku hanya diam di kelas dengan Anggi sambil membicarakan ulangan tadi . Ditengah-tengah pembicaraan , Datang Seorang pria yang tak asing bagiku . Ia tetap tersenyum lembut dibalik jendela kaca dan perlahan melangkah pergi.
Anggi yang mengetahuinya hanya tersenyum saja.
“ ciyee ... ekhem ada yang lagi kasmaran nih “ ucapnya mengejekku.
“ apa sih, gak jelas kamu “ jawabku jengkel.
“ Cowok itu namanya Gibran,Dia pernah cerita kalo dia pengen deket sama kamu eh maksudnya pengen kenalan rin” ucapnya serius
Aku terdiam,tak tau akan menjawab apa.
“ kayaknya dia suka deh sama kamu rin, tapi gak berani ngomong” lanjut Anggi lagi
“ aku gak mau“ jawabku singkat
“yaelah Sherin , kenalan doang kok. Ya nantinya bakalan pacaran juga sih” Anggi mulai memaksaku dengan ledekannya.
“ terserah deh , aku gak mau kenal cowok dulu “ ucapku tegas.
“ mmm yaudah deh rin “ jawab Jihan pelan.
Pacaran membuatku tidak fokus sekolah , pertengkaran yang terjadi disetiap hubungan yang tak bisa terselesaikan membuat dilema tersendiri. Meluangkan waktu hanya untuk menjaga jodoh orang adalah membuang waktu saja. Tak ada gunanya, aku tak siap dengan semua itu. Lagi pula Orang yang suka padaku saat ini disukai banyak orang , tentunya hati dia akan mudah terbagi nantinya . Dan biasanya playboy. Aaaa benar-benar tak terbayangkan jika aku menerima cintanya.
Kelas berakhir. Hari ini benar – benar melelahkan , membuatku mengantuk. Kami menunggu Angkot lewat , matahari sudah naik dari 5 menit yang lalu . Angin yang berhembus membuat kerudung terangkat mengikuti arah hembusan angin , Tas merah yang ku gendong sangat berat , aku meletakkannya di tanah . Tak lama kemudian Angkot biru datang , menawarkan tumpangan kepada kami.
Sebenarnya Rumahku tidak terlalu jauh dari sekolah, tapi keadaan memaksaku untuk pindah rumah di kota bersama keluarga . Bahkan di kota tempat sekarang aku tinggal lebih ramai dari rumah di desa . Bagaimana tidak , jika semua saudara dari ayah berjumlah 10 orang dengan anak dan mantu berkumpul dalam satu lahan rumah . Lahan itu adalah warisan dari nenek untuk anak-anaknya agar bisa berkumpul bersama dalam satu tempat dan waktu . Namun ada juga saudara ayah yang ikut bersama istrinya di luar kota,tidak banyak,hanya 2 sampai 4 orang saja.
Keluargaku memutuskan untuk pindah rumah sejak aku semester 1 kelas 2 SMP . Pertama kalinya aku tidak mau naik angkot , aku tidak biasa sendiri . Kejadian di film-film televisi tentang anak yang seangkot dengan orang jahat dan kemudian dia diberikan air lemon yang segar dengan es batu didalamya , tawaran itu ia terima dan akhirnya ia pingsan dan di jual untuk diambil organ dalamnya . “ mengerikan “ celetukku waktu itu saat ayah menyuruhku untuk naik angkot.
Namun untung ada teman yang juga naik angkot menuju sekolah yang sama denganku . Ia adalah Chelan , teman seangkatan denganku namun beda kelas . Kami janjian setiap berangkat sekolah jam 05.50. Eh tunggu, Anggi juga seangkot denganku setiap harinya , walaupun tidak berhenti di tempat yang sama , rumahku lebih jauh dari rumah mereka,Awalnya ayah menyuruhku untuk pindah sekolah , karena jarak dari rumah cukup jauh .sedangkan aku yang memberitahu kepada temanku bahwa aku akan pindah sekolah,ia tampak sangat sedih dan tidak ingin aku pindah sekolah.
“ masuk bareng , keluar harus bareng dong rin . Jangan pisah-pisah “ ucap salah seorang teman
“ lah jangan dong rin , tega banget kamu ninggalin aku rin “ itu lah kalimat dari Anggi setelah tau aku akan pindah sekolah .Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tetap di sekolah ini. Lagi pula sulit rasanya beradaptasi di lingkungan baru.
Waktu berjalan begitu cepat . Rasanya baru kemaren merasakan kelas 2 SMP. Semester 2 akan segera berakhir, akan digantikan kelas yang baru dengan waktu yang tak akan lama . Karena memang kelas 3 menjadi ujung dari masa SMP . Buku paket setebal kayu jati sudah tamat di pelajari , sesekali ada coretan penting di sematkan di bagian bawah buku dengan tinta berwarna merah muda di setiap garisnya. tak lupa , kalimat yang dianggap penting digaris bawahi semacam pengertian suatu istilah agar mudah diingat nantinya.
“ sherin” panggil seseorang di ujung kolidor.
Aku membalikkan badan seraya menoleh dan itu masih orang yang sama, Gibran. Setelah beberapa lama,ia kembali lagi mencariku.
“ aku pengen ngomong sama kamu ,Rin “ ucapnya serius
“ biar enak ngomongnya , duduk di taman aja yuk “ lanjutnya memberikan tawaran seraya menganggukkan kepala.
"Oh gitu ya,yaudah” jawabku singkat.
Kami berjalan ke taman depan sekolah, duduk di bawah pohon beringin dengan Angin yang berhembus membuatku betah berlama-lama disini.
“ mau ngomong apa” ucapku sembari duduk disampingnya.
“ Rin, aku suka ...” Gibran memotong ucapannya saat aku melihat kearahnya.
“ suka?” jawabku heran.
“ aku suka coklat “ ucapnya mengambil coklat di saku celananya dan memberikannya padaku.
“ makasih” jawabku singkat menerima coklat itu.
“ aku juga suka kamu” ucap Gibran menatapku.
Aku kaget , langsung menoleh kearahnya dengan penuh tanda tanya.jantungku seketika berdegub kencang. Perasaan macam apa ini ? Tidak mungkin jika aku suka padanya. Gibran memegang tanganku dan mengatakan
“ mau gak kamu terima aku?” Matanya memandangiku dengan penuh harap.
Sesegera mungkin aku lepaskan genggaman itu , aku sadar bahwa ini hanya omong kosong seorang playboy.
“maaf aku gak bisa nerima kamu , aku lebih suka kalo kita temenan aja “ jawabku memasang muka datar kemudian bangun dari tempat dudukku dan melangkah pergi menjauhinya.
Aku tak ingin berlarut dalam genggamanya. Karna aku tau dia tidak tulus mencintai wanita,aku tau itu. Sikapnya yang berganti pasangan,membuatku tak percaya akan perkataannya. Alasannya ya gini,kesalahan sekali itu bisa dibilang khilaf kalo dia beneran gak mainin perasaan cewek. Tapi Gibran sudah terkenal buaya di sekolah,dan itu bukan khilaf lagi tapi sudah menjadi tabiat. Dan tabiat itu mau di jungkir balikpun gak bakal bisa berubah karna udah jadi kebiasaan dia, intinya jangan ambil resiko.
Melamun memikir perkataan Gibran saat aku berjalan,membuatku tidak sengaja menabrak Anggi.
“ eh Sherin ? Dari mana ? Diajak ke kantin gak mau. Yaudah aku berangkat sendiri “ sapa Anggi mengunyah permen karet yang ia beli .
“ yaudah, ayo masuk kelas “ tawarku Mengalihkan pertanyakannya.
Ditempat aku berdiri saat ini dari arah ruang guru tampak banyak sekali murid beramai-ramai. Aku bahkan tidak tau apa yang mereka lihat,namun hal itu tak membuatku untuk ikut melihatnya. Rasanya sesak , jika harus berdesakkan melihat yang terjadi .
“ ada apa,win?" Tanya Anggi kepada salah seorang perempuan yang sedang lewat.
“ ada Murid baru,Gi. Keponakannya Bu Emy “ jawabnya terburu-buru.
“ liat yuk rin” Ajak Anggi kepadaku.
“ gak ah males,kamu aja sana. Aku di sini aja “ balasku singkat.
"Yaudah deh aku nggak juga,aku gak mungkin meninggalkan sahabatku ini. Aku padamu,Rin" sahut Anggi menahan gelak tawa.
"Yaudah deh aku nggak juga,aku gak mungkin meninggalkan sahabatku ini. Aku padamu,Rin" sahut Anggi menahan gelak tawa.
Kami duduk di kolidor depan kelas . Melihat murid berlalu lalang kesana-kemari. Dari arah barat terlihat seorang laki-laki dengan perban di mata kirinya. Sepertinya ia baru saja selesai operasi. Ia berjalan kearahku dengan di dampingi Bu Cris masuk ke kelas B , sebelah kelas denganku. Tampaknya itulah murid barunya.
Hari ini hari yang melelahkan , udara yang dingin,membuat rasa lelah tak berarti . setetes hujan membahasi kaca jendela. Hujan rintik-rintik mulai turun, aroma Tanah membuatku merasa tenang . Aku menikmati setiap rintikan hujan di setiap tetesannya. Tiba-tiba saja pikiranku mengarah pada ucapan Gibran tadi.
“ aaa mengapa aku memikirkannya, seperti tak ada hal lain yang harus dipikirkan “ celetukku dalam hati.
Duduk di samping jendela membuatku mengantuk , membengkokkan tangan dan menunduk pelan bisa membuat seseorang tidur . Tidak lama menutup mata , tidurku terganggu saat bel pulang berbunyi.
“ bangun rin , ngebo aja kamu “ ucap Anggi menggoyangkan badanku
“ aku ngantuk,Gi. Lagi pula diluar hujan. Nanti basah bajuku. “
“ aah lebay kamu , hujannya gak deras kok “Anggi menarik bajuku mengajak untuk bergegas.
Aku dan Anggi menunggu Angkot di depan sekolah . Berharap yang ditunggu akan segera datang. Udara yang dingin,menghangatkan tubuh dengan menggesekkan kedua tangan bisa membuat tubuh terasa hangat. Sepertinya Murid baru tadi juga sedang menunggu Angkot. Mata yang tadi di perban sudah tak ada lagi , ia memakai Kacamata lebar menghiasi mata bulatnya.
Akhirnya yang ditunggu sudah datang , Aku dan Anggi masuk ke angkot dan dibelakang di ikuti murid baru berkacamata . Kali ini aku benar-benar mengantuk . Hujan
yang membuatku mengantuk? Mungkin saja.
“ Anggi , pinjem bahu kamu dong . Buat sandaran “ ucapku yang sedang menguap.
“ ngebo terus kamu rin “ jawabnya jengkel.
Tanpa berpikir panjang , ku robohkan kepalaku ke arah bahu Anggi dan perlahan menutup mata. Hembusan angin di jendela kaca Angkot membuatku ingin terus berada disini. Penumpang yang tak telalu banyak dan tidak ada yang membawa aroma ikan amis lagi membuatku bisa tidur pulas.
“ Sherin , aku tulus rin . Aku beneran suka sama kamu . Kenapa kamu gak bisa nerima aku rin ? “
Aku terbangun , membuka mata tak terpikirkan jika itu adalah suara Gibran.
“ kenapa rin?” tanya Anggi kaget.
“ gak , gakpapa” jawabku .
“ gang ramayana bang , kiri “ ucap Anggi nyaring kepada kernet angkot.
“ aku duluan ya,Rin" lanjutnya lagi.
Anggi menjulurkan tangannya dan berlari pulang . Genangan air membuat Rok yang ia pakai kotor.
Mengapa aku masih memikirkan Gibran? Apa yang sebenarnya aku rasakan? Tak mungkin jika aku juga suka padanya . Aku tak ingin menyukai orang yang disukai banyak orang .
“ aku pulang “ sapaku di balik pintu depan seraya membuka sepatu hitamku.
“ eh Sherin, udah pulang, masuk nak . Kamu mandi terus ganti bajumu” perintah ibu seraya mengusap kepalaku lembut.
Hari ini Anggi tidak masuk sekolah , Chelan? Apalagi dia . Hujan kemarin membuat mereka demam. Sepulang sekolah mereka mandi bersama hujan dengan seragam yang mereka pakai.
"Aku gak bisa masuk rin , kepalaku sakit badanku kaya ada koyonya semua , panas banget rin "
Pesan singkat Chelan kepadaku ,
Rasa takut untuk naik angkot sendiri sudah tak ada lagi . Aku berangkat sekolah terburu-buru , tidur larut malam bisa membuat seseorang tidak bisa bangun pagi dan tentunya itu akan membuat terlambat untuk ke sekolah.
Aku seangkot lagi dengan murid baru , papan nama di dadanya bertuliskan “ Revan Evandi “ bisa membuatku tau nama Murid baru itu. Kami saling berhadapan memandang satu sama lain .
“ kamu kayaknya murid SMPN 2 Adipura ya ? Soalnya kemarin kita juga seangkot , seragam kita juga sama. “ sapa dia membuka pembicaraan.
“iya “ jawabku singkat .
“ oh iya kita belum kenalan. Nama Aku Revan , nama kamu siapa?” tanya dia menyulurkan tangannya ke arah ku .
Aku menerima tangannya “ Namaku Sherin “ ucapku ramah dengan senyum tipis dibibirku.
Kami duduk bercanda gurau di perjalanan menuju sekolah . Seiring berjalannya waktu aku dan Revan berteman akrab , sangat akrab . Sering bertemu di hari minggu di Car free day untuk melepas penat saat sekolah masuk. Kadang bersama Anggi, namun keseringan berdua bersama Revan, sebab Anggi orangnya pemalas untuk bangun pagi.
"Eh Rin, aku rumus ini gak ngerti,ajarin dong" lirih Revan memelas berharap aku akan membantunya.
"Oh ini,materi bentuk persamaan kuadrat?" Tanyaku membuka buku matematika.
"Iya,Rin. Aku rada mudeg rumus yang ini" jawab Revan polos.
"Bentuk persamaan kuadrat itu a×2 + bx + c = 0 dengan a ≠ 0, a, b, c ∈ R. Konstanta a,b,c pada persamaan ini disebut koefisien. Nah beberapa contoh persamaan kuadrat yaitu : 3×2 – 7x + 5 = 0, x2 – x + 12 = 0, x2 – 9 = 0, 2x(x – 7) = 0" Jelasku dengan serius.
"Langsung ke contoh soal aja deh,nah yang uji kompetensi 3" Tanya Revan lagi dengan penuh rasa ingin tau.
"Bentar dulu, ini ada tiga metode dalam mencari akar-akar persamaan kuadrat yaitu pemfaktoran,melengkapkan kuadrat sempurna terus rumus ABC" Jawabku melihat rumus yang terlihat.
" nah yang nomer 3 ini substitusikan dulu,soalnya kan x1=4 dan x2=-4 akar-akar persamannya x²-16=0 jadi Nilai x1=4 kita substitusikan dulu pada persamaan X²-16=0, maka jadinya ²-16=16-16=0 (benar)Nilai x2=-4 kita substitusikan pada persamaan x²-16=0, maka(-4)²-16=16-16=0 (benar)karena berdasarkan substitusi menghasilkan kalimat benar, maka x1=4 dan x2=-4 merupakan akar-akar persamaan x²-16=0." Jawabku panjang lebar mencoba menjawab rumus yang aku tau saja.
"Sampe sini ngerti gak?" Aku melihat Revan menganggukkan kepalanya
" lumayan ngerti sih,terus ini di selidiki apakah x=3 merupakan akar atau penyelesaian dari persamaan 5x²-13x+6=0?"
"Iya bener,lanjutin ya. Kalo gak ngerti tanya aja" tukasku sembari mengambil buku komik untuk siap dibaca.
Keesokan harinya..
Sudah 6 Bulan aku berteman dengan Revan,saling bertukar pikiran tentang pelajaran karna memang kami beda kelas. Perbedaan itulah yang membuat kami akrab saling bertanya pelajaran yang tidak di mengerti,Jika aku merasa kesulitan mengerjakan Tugas fisika,Revan akan bersenang hati membantuku. Begitu pula denganku,biasanya Revan sering bertanya Tugas biologi dan matematika kepadaku.
"Oh ini,materi bentuk persamaan kuadrat?" Tanyaku membuka buku matematika.
"Iya,Rin. Aku rada mudeg rumus yang ini" jawab Revan polos.
"Bentuk persamaan kuadrat itu a×2 + bx + c = 0 dengan a ≠ 0, a, b, c ∈ R. Konstanta a,b,c pada persamaan ini disebut koefisien. Nah beberapa contoh persamaan kuadrat yaitu : 3×2 – 7x + 5 = 0, x2 – x + 12 = 0, x2 – 9 = 0, 2x(x – 7) = 0" Jelasku dengan serius.
"Langsung ke contoh soal aja deh,nah yang uji kompetensi 3" Tanya Revan lagi dengan penuh rasa ingin tau.
"Bentar dulu, ini ada tiga metode dalam mencari akar-akar persamaan kuadrat yaitu pemfaktoran,melengkapkan kuadrat sempurna terus rumus ABC" Jawabku melihat rumus yang terlihat.
" nah yang nomer 3 ini substitusikan dulu,soalnya kan x1=4 dan x2=-4 akar-akar persamannya x²-16=0 jadi Nilai x1=4 kita substitusikan dulu pada persamaan X²-16=0, maka jadinya ²-16=16-16=0 (benar)Nilai x2=-4 kita substitusikan pada persamaan x²-16=0, maka(-4)²-16=16-16=0 (benar)karena berdasarkan substitusi menghasilkan kalimat benar, maka x1=4 dan x2=-4 merupakan akar-akar persamaan x²-16=0." Jawabku panjang lebar mencoba menjawab rumus yang aku tau saja.
"Sampe sini ngerti gak?" Aku melihat Revan menganggukkan kepalanya
" lumayan ngerti sih,terus ini di selidiki apakah x=3 merupakan akar atau penyelesaian dari persamaan 5x²-13x+6=0?"
"Iya bener,lanjutin ya. Kalo gak ngerti tanya aja" tukasku sembari mengambil buku komik untuk siap dibaca.
Keesokan harinya..
Hari ini hari yang tenang , hari minggu Car Free Day bersama Revan di alun – alun kota adalah hal rutin yang sering kami lakukan . Kami mengelilingi alun-alun , setelah terasa penat . Rasa haus pun datang.
“ Rin , beli – beli yuk . Perutku keroco9ngan nih .” seru Revan memutar perutnya.
“ hahaha mungkin aja di perut kamu lagi ada Acara keroncong “ jawabku menahan tawa.
“ serius , ayo ah “ Revan menarik tanganku menuju perkumpulan Pedagang kaki lima .
“ mau beli apa,Rin” tanya dia menoleh kanan kiri melihat makanan apa yang ada .
“ mmm aku teh poci aja deh “ jawabku mencari pedagang Teh poci di sekitar tempat itu .
“ aku mauu.... aaa Batagor aja deh . Enak tuh “ jawabnya lagi.
Revan berjalan ke arah gerobak Batagor dan aku dengan Gerobak Teh poci,harus mengantri untuk membeli teh poci . Sedangkan Revan tampaknya sudah menerima Batagor yang ia pesan.
“ udah gak ? “ tanya revan sembari menguyah makanan di mulutnya.
“ ngantri nih , tinggal satu orang lagi “ jawabku .
“ bang , teh poci dua ya “ ucap Revan lagi menahan pedasnya batagor yang ia beli.
“ eh butuh minum juga terrnyata ya ? Makanan pedes masih dibeli , udah tau gak ada manfaatnya “ ucapku menggelengkan kepala jengkel
“ ada , buat perut kenyang.” Jawab Revan Kesal.
Teh Poci sudah selesai diraciknya , pedagang teh poci memberikan pesanan kami dengan rasa Vanila kesukaanku. Aku mengambil uang Rp.2000 di tas kecilku. Namun secepat Revan membayar Teh pociku .
“ udah, aku aja yang bayar “ ucapnya membayar uang kepada Pedagang Teh Poci.
Tiba-tiba Saja hujan datang , sangat deras , seakan tidak ada tanda akan adanya Hujan . Aku dan Revan berteduh di sebuah pasar dekat Alun-alun, di sebuah toko. Orang pun banyak yang berteduh disana .
“ kamu basah gak?” ucapnya melihat kearahku
“ iya sedikit” jawabku seraya mengibaskan bajuku yang basah
Kami menunggu hujan reda , memperhatikan setiap titik hujan yang jatuh . Gerai Toko yang ditutup dan kotor membuat bajuku Kotor karna nyander ke gerai toko.
“ eh rin punggungmu kotor” ucap Revan membersihkan punggungku.
“ hah? Emang iya van? “ aku mencoba membersihkannya.
Tangan Revanpun ikut membantu
“ uuuh pinter banget Ngambil waktu , pacaran ya? “ tanya seorang laki-laki di depanku sembari menggendong anak perempuannya.
Aku yang merasa kesal , mengerutkan Alis . Tak suka rasanya jika dikatakan pacaran , kami hanya berteman , tidak lebih .
“ dih mukanya langsung asem . Bercanda doang kali rin “ ucap Revan menatapku.
Hujan sudah mulai reda . “ Mau aku anter rin? “ tawar Revan kepadaku .
“ aku naik sepeda Motor , diparkir di belakang , daripada kamu jalan kaki mending sama aku aja . Lagipula rumahmu lumayan jauh “ sambung Revan lagi.
“ belakang mana sih van ? kayaknya gak ada tempat parkir di belakang” jawabku menoleh ke lorong belakang .
“ ya itu menurut kamu , gak pernah kesini . Jadi gak tau kalo ada tempat parkir di belakang. Tempatmu kan di rumah terus rin hahahah “ Seru Revan tertawa dengan bahagianya sembari berjalan menjauhiku untuk mengambil sepeda motornya.
Dimalam harinya aku membaca komik yang aku pinjam di perpustakaan umum . Tak ada uang untuk membeli komik , meminjam dan mengebalikannya adalah caraku untuk bisa tetap membaca .
Tiba-tiba pesan masuk membuat hanphone yang tergeletak di kasur berdering. Rupanya itu pesan dari Revan.
" Rin,aku pengen konsultasi tentang cewek yang aku suka . Kamu kan cewek pasti tau lah"
Pesan dari Revan membuat ponselku bergetar saat aku tengah membaca komik kesukaanku . Sudah biasa jika aku menjadi tempat curhat untuk Revan . Sesekali aku juga menceritakan keluh kesahku.
Iya cerita aja
"Aku suka sama tetanggaku , gimana gak suka rin dia pinter, baik , cantik . Tiap hari lewat rumahku . Tapi sayangnya , aku malu buat deketin dia . Gimana sih cara ngedeketin Berlin ?"
Berlin adalah perempuan yang sering Revan ceritakan padaku. Dia adalah orang yang Revan suka . Kulit putih bersih dan rambut pirangnya membuat Revan terpukau . Namun anehnya, Revan sudah berulang kali menanyakan bagaimana cara mendekati gadis itu kepadaku
Aku mulai mengetik pesan balasan pada Revan tentang keluh kesahnya.
"Hal pertama yang harus kamu lakukan, mendekati teman dekatnya . Cari info tentang dia , belikan apa yang dia suka . Minta nomer ponselnya , sering chatan , ajak jalan"
"Mmmm cara nembaknya gimana rin , biar bisa pacaran aku hehehe" tanya dia lagi.
"Pacaran itu bukan sekedar pdkt nembak jadian trus putus . Tapi pacaran itu ngejalanin hubungan sehat ngejalin hubungan kamu dan dia , sama sama gimana tau rasanya proses saling memiliki rasanya proses susah seneng , rasanya proses ngejalanin dan berbagi cerita kehidupan dan Kamu bakal nikmatin hasilnya karna proses itu jauh lebih berharga daripada hasil dan Kamu akan menemukan sebuah kenyamanan dalam pacaran."
"Tumben bijak banget , jadi termotivasi aku . jomblo emang suka bijak kalo ngomong soal cinta" ledeknya
"Eh apaan kamu ngehina jomblo , gak ada gunanyanya jagain jodoh orang, buang-buang waktu aja. Emang siapa sih yang mau kamu tembak ?Berlin?" Jawabku asal menebak
"Duh Sherin maaf banget ya , ponselku batrenya lowbat mau di changger dulu .aku kasih tau besok, oke bye" itulah pesan terakhirnya.
Keesokan harinya , Aku berangkat seperti biasa bersama mereka. Mereka yang kusebut sebagai teman . Anggi,Chelan dan Revan . Orang yang selalu ada Saat suka dan Duka , memelukku saat menangis . Lebih dari seorang Teman . Bisa dibilang Saudara tidak sedarah .
Hari ini Anggi pulang lebih awal , kabar Neneknya yang meninggal karna sakit yang ia derita membuat Anggi shok dan sedih, sangat sedih . Hatinya sakit , bagaimana tidak . orang yang menjadi tempatnya untuk menuangkan keluh kesah yang ia alami , yang sering mendengarkan Curahan hatinya. Kini pergi untuk selamanya . Ia pulang dengan pipi yang dibasahi airmata . Rasanya tak tahan melihatnya menangis , perlahan air mataku jatuh dengan sendirinya . Chelan yang merupakan sepupu Anggi juga pulang .
Saat bel pulang berbunyi, aku masih berdiam diri di kelas. Biasanya Anggi menghiburku dengan canda tawanya, saat dia tau aku sedang melamun seperti sekarang ini . namun sekarang aku lah yang harus menghibur dirinya.
“ Sherin , pulang ayok” sapa Revan didepan pintu .
Aku membereskan buku Pelajaran dan memasukkannya ke dalam tas beranjak pulang.
Di angkot Aku duduk bersebelahan dengan Revan , tiba-tiba Ponselku bergetar . Tanda ada pesan masuk. Namun aku tak mengambil respon sepertinya di jam seperti ini tidak ada yang akan mengirim sebuah pesan,mungkin itu hanya pesan dari operator.
“ ada pesan tuh rin “ ucap Revan melihat ponselku.
Didepan layar tampak ada nama Revan . Ya , itu pesan dari Revan . Mengapa masih menggunakan alat komunikasi untuk berbicara? Sedangkan manusia yan mengirim pesan ada di sebelahku.
“ Manusia yang aneh gumamku” dalam hati .
“ apa sih van ? Ngomong langsung aja lah “ ucapku kesal
“ ya dari tadi kamu diam terus rin , lihat ke kaca jendela terus.” Jawabnya santai.
Aku diam tak menjawab
“ mau tau nggak orang yang aku suka ? “ pesan dari Revan lagi .
“ siapa?” jawabku singkat
“ orang yang aku suka ada di sampingku “ revan membalikkan ponselnya dan menutup mata seraya bernafas panjang.
Aku kebingungan , siapa yang Revan suka? Di angkot saat ini tidak ada orang selain aku . Hanya kami berdua, serius .hanya aku dan Revan. Aku menoleh ke kanan kiri , benar - benar tidak ada orang selain aku dan Revan . Hanya Sopir didepan yang sedang mengemudi. Tidak mungkin jika Orang yang Revan suka adalah aku . Aku yang sedang duduk disampingnya , tidak mungkin . Aku sudah menganggapnya teman dekatku .
“ kamu sherin , kamu “ pesan Revan kembali masuk.
Aku berfikir panjang dan menyimpulkan bahwa Revan sedang begurau . Memainkan seorang jomblo di sampingnya dan membuat aku Baper akan pesan yang ia kirim .
“ hahahha candaanmu gak lucu , Revan . Gak mempan . Aku gak Baper” aku mengirimkan pesan padanya seraya menahan gelak tawa.
“ aku serius rin , aku suka kamu “ pesan kembali masuk .
Aku kaget dengan pesan yang ia kirim,tak kusangka Revan menyimpan perasaan terhadapku.
“ apa yang kamu suka dari aku ? Sejak kapan rasa itu ada ? “ aku mengetik dan menoleh kearahnya. Berharap ia hanya sekedar bercanda belaka.
“ kamu baik,pinter,manis.sejak awal kita bertemu di angkot ini . Maaf rin aku gak bisa bohong dari perasaan aku . Aku serius ,”
"Dan bahkan kamu gak tau kekurangan aku apa,aku gak butuh pujian!" Aku setengah bersorak
"Kamu cengeng,pendiem. Nghh itu bukan kekurangan" Jawab Revan bingung.
"Dan bahkan kamu gak tau kekurangan aku apa,aku gak butuh pujian!" Aku setengah bersorak
"Kamu cengeng,pendiem. Nghh itu bukan kekurangan" Jawab Revan bingung.
Apa yang harus aku katakan padanya? Sebenarnya ada rasa lain pada diriku selain sebagai teman . Tapi disisi lain aku lebih nyaman untuk berteman saja.
Otakku berfikir cepat tak tau akan menjawab apa
"iya " itulah balasan pesan terakhirku sebelum turun dari angkot
“ gang darma , kiri “ aku turun dari angkot meninggalkan Revan.
"Makasih Sherin" balasnya
Lulus SMP , selanjutnya berganti dengan SMA . Aku dan Revan terpisah sekolah , Revan memutuskan untuk bersekolah Madrasah Aliyah . Karena ia ilmu agamanya dan afalan qur'annya cukup sempurna . Sedangkan aku sekolah di SMA favorit . Walaupun begitu , kami sering menukar kabar lewat sepotong chat yang kami kirim.
Perlahan Revan mulai berubah , tidak menghubungiku lagi . Aku paham dia sedang sibuk mengikuti organisasi di sekolahnya . Namun tidak adakah waktu untukku ? Walaupun hanya mengabarkan kalau dirinya sedang sibuk . Untuk satu hari bahkan lebih, aku bisa memakluminya. Namun jika sampai berminggu-minggu rasanya itu bukan ada hubungan lagi . Apakah ada perempuan yang ia suka, selain aku? Aku mengingat perkataan Revan saat ia menembakku di angkot. Ucapannya hanyalah omong kosong belaka.
Malam itu , aku menelfon Revan. Dan mengakhiri hubungan yang pernah dibuat. Revan kaget dan tidak ingin berpisah denganku, ia memaksaku untuk tetap dengannya . Walaupun begitu aku tetap ingin putus , mengakhiri semuanya .
"Aku gak mau, aku gak mau putus" jawabnya memohon.
"Udah deh gak usah drama, gak perlu bertingkah seakan kamu masih ingin aku disini" ucapku cepat dengan emosi yang meluap.
"Aku gak mau, aku gak mau putus" jawabnya memohon.
"Udah deh gak usah drama, gak perlu bertingkah seakan kamu masih ingin aku disini" ucapku cepat dengan emosi yang meluap.
“ oke Sherin, kalau itu mau kamu . “ ucapnya lirih di balik ponsel .
Satu hal yang perlu di pahami tak cukup hanya di mengerti.sikap itu tergantung perasaan tapi perasaan tidak tergantung sikap.
Sering muncul pertanyaan “ kenapa ya sikapnya akhir-akhir ini berubah?” itu adalah waktu yang tepat untuk memahami perasaanya. Ketika kamu merasa dia mulai jenuh sehingga menjauh. Sadarilah,itu adalah pilihan untuk memberikan tanda bahwa dia memang sudah tidak lagi mempunyai rasa.lalu harus apa? MUNDUR SECARA TERATUR.
Bukankah memang di dunia ini hanya sementara? Semua hubungan punya masanya ada yang singkat ada yang sedikit lama.